Team Paskibra

Terpujilah Nama-Mu

Saya Marissa Pardosi dan kedua teman saya  Mario Simbiak dan  Juan Antony diutus oleh sekolah untuk mengikuti seleksi calon paskibra Kabupaten Pasuruantahun  2017 di Gedung Olah raga Raci-Bangil. Ada sekitar 12.000 siswa dan siswi yang mendaftar seleksi atau lolos seleksi pertama dari sekolah-sekolah.  Yang di ukur pertama adalah tinggi dan berat badan, apakah sudah memenuhi standart. Semua calon paskibra diminta memegang nomor dan di foto oleh kakak yang menyeleksi, yaitu dari PPI (Purna Paskibra  Indonesia).  Bulan Maret pertengahan,  kami  pergi ke  GOR Raci untuk seleksi dan di sana ada 150 orang dari berbagai sekolah.  Setelah melewati beberapa tahap seleksi, seperti tinggi badan, berat badan, latihan baris-berbaris (PBB), lari 200 m (12 kali) selama 12 menit, push-up, sit-up, dan dijemur selama sekitar 40 menit dengan sikap istirahat di tempat. Jam 12.00 kami di beri makan siang oleh kakak Pembina. Sesudahitu, kamimengikuti tes  BahasaInggris,  tes kebutaan,  tes kewarganegaraan. Menunggu nomor kita dipanggil butuh sekitar 2 – 3 jam,  sehingga hasil penyeleksian diumumkan pukul 10 malam.

Para pelatih dan Pembina melihat bagaimana postur tubuh dan lain lain. Akhirnya  tibalah pada pemanggilan nomor.Nomor saya  “049” dipanggil juga ternyata dan itu adalah Capaska Kab Pasuruan 2017. Setelah itu, nomor saya dipanggil lagi kedepan dan ternyata saya masuk seleksi ke provinsi. Saya bersyukur sekali karena Tuhan sudah membuka jalan bagi saya untuk seleksi.  Dan puji Tuhan, Mario dan Juan juga dipangil  nomornya, namun hanya sampai tingkat kabupaten.

April  awal saya dan ke-9  teman saya yang ikut seleksi provinsi mengikuti serangkaian latihan seleksi yang akan diadakan di Surabaya.  April pertengahan saya dan ke-9  teman saya mengikuti seleksi  di Surabaya. Kabupaten Pasuruan termasuk golongan Malang Raya yang  diadakan pada hari ke-2. Di seleksi ini ada 3 hari waktu untuk seleksi setelah mengikuti tes dan juga latihan baris-berbaris,samas eperti yang di kabupaten kemarin. Kami pun memasuki sebuah ruangan yang ber isi pos kesehatan,  psikologi dan bahasa Inggris dan kewarganegaraan.  Saya gagal di teskesehatan, poin saya kurang karena mata saya rabun.

Pada saat pemanggilan nomor, nomor saya tidak di pangil,baik itu cadangan maupun utama. Salah satu teman  yang menjadi perwakilan dari Pasuruan dipilih untuk ikut seleksi nasional namun gagal dan hanya di tingkat provinsi. Saya juga bertemu dengan pembawa baki nasional asal Blitar pada saat seleksi, memang dia cantik dan manis sekali.Setelah itu,saya kembali keasrama dan kembali keaktivitas seperti biasa di asrama.

Pada bulan Juli, seragam sudah siap diambil dengan segala perlengkapanya mulai dari kopiah, sarung tangan, PDH (Pakaian Dinas Harian), PDU (Pakaian Dinas Umum), sepatu latihan,  sepatupan tofel, jilbab (karna mayoritas adalah muslim, maka kami harus saling menghargai) dan kaos kaki.

Setelahitu,tanggal 8 Agustus 2017 kami mengikuti karantina di hotel Amanah Bangil. Pada awalnya saya agak ragu dan ingin segera pulang, tapi saya akhirnya betah disana, begitu juga dengan kedua teman saya Mario dan Juan, mereka langsung punya banyak teman.

H-6 formasi 17-8-45 telah dibentuk. Puji Tuhan, saya ditempatkan di barisan pengibar bendera. Namun 2 teman saya yang di kiri dan kanan terlalu loyo,sehingga digantikan dengan orang lain. Waktu itu hari Jumat. Saya, Mario, dan Juan pergi kerumah saudara saya di pasuruan untuk beribadah kegereja. Setelah malam minggu saya pulang kepenginapan, saya bertanya kepada teman-teman saya, apakah ada yang terjadi.Teman-teman menyampaikan tidak ada. Besoknya, waktu latihan, teman saya bilang saya digantikan jadi penurunan bendera. Bukan pengibaran, Saya pun pasrah. Saya terima saja. Masalah terbesar adalah faktor alam yaitu angin tidak bisa diprediksi dan dicegah, selama latihan angin terus kencang dari utara keselatan dan sebaliknya,  yang  membuat bendera akan terlilit. Saya berdoa  agar hal ini tidak terjadi dan nanti waktu penurunan. H-4,  H-2 dan H-1. Angin tetap kencang.  Padasaat  17 Agustus  2017, pujiTuhan, bendera sukses dikibarkan.  Ini adalah waktu jam menunjukan pukul 15.00 waktunya untuk bersiap, sebelum bersiap saya berdo alagi sambil menangis.

Pada saat di barisan dan komandan pasukan memerintahkan kami untuk langkah tegak maju, saya berdoa sekali lagi. “Tuhan,tolong Kau redakan angin ribut ini,seperti Engkau meredakan angin ribut di Galilea, amin. ”Saya sudah pasrah,  serahkan pada Tuhan. Kehendak-Nya yang jadi.Dan betul, bendera mulai turun dari ujung tiang sampai merahnya  tiba pada saya, angins edikitpun tidak menyentuh bendera itu. Tuhan memang luar biasa, tidak ada angin, alam begitu tenang,  pohon dan semak-semak tidak ada yang bergoyang.

Setelah itu,saya menangis berterimakasih padaTuhan karena masih mendengarkan doa saya.Akhirnya kami  mengikuti resepsi kenegaraan di Pendopo Nyawiji Ngesti di Pasuruan bersama orang tua dan besoknya kami mengunjungi teman-teman paskibra di Jogja.Disana kami di sambut hangat dan besoknya kami berekreasi ke Malioboro, Kraton, Parangtritis dan pusat oleh-oleh. Dan hari itu juga  kami kembali kedaerah karintina Bangil sampai subuh besoknya  kami pulang keasrama dan melakukan kegiatan seperti biasa.

Masih teringat  di benak saya bagaimana kami bagun pukul 04.00,sembahyang, minum air hangat, olah raga sebentar, kemudian mandi.  Sesudah sarapan,  kami akan latihan mulai dari pukul 07.00 sampai pukul  12.00. Pada awalnya panas sekali rasanya, namun padahari  ke-3 sudah tidak terasa lagi di jemur panas hari. Kami pasukan 8 lebih sering latihan karnapasukan lain bisa istirahat kami tidak bisa. Namun puji Tuhan, semua bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Ditulis ulang dari keseksian Marissa Pardosi